Tuesday, September 25, 2007

Aku berusaha memahamimu....... Apakah kau juga berusaha memahamiku....?

Ketika kita terbentur pada kenyataan bahwa kita harus bisa memahami orang lain, mengerti orang lain, menempatkan diri pada posisi orang lain, timbul pertanyaan apakah mereka juga bisa memahami kita?

Empati, begitu sulit untuk dilakukan ketika kita masih dikuasai ego.
Tapi bukan berarti untuk menumbuhkan empati kita tidak boleh memiliki ego.
Ego merupakan bagian dari fitrah manusia, fitrah ke-eksistensi-an manusia.

Manusia hanya perlu menguasai ego, bukan dikuasai ego.
Dengan menguasai ego, empati akan muncul dengan sendirinya.

Okelah kita bisa menguasai ego, kita menjadi manusia yang memiliki rasa empati tinggi, lantas apa untungnya bagi kita, jika ternyata hanya kita yang melakukan itu.

Memang sepertinya tidak adil, ketika kita berusaha memahami orang lain, berusaha mengerti orang lain, tetapi mereka tidak melakukan hal yang sama dengan kita.

Sepertinya hanya kita yang harus menjadi baik, sepertinya hanya kita yang harus menjadi malaikat, sementara orang lain menempatkan dirinya sebagai orang yang ingin dipahami.

Bukankah tak ada ruginya kita menjadi baik?
Bukankah sudah seharusnya kita menjadi lebih baik?
Tidak masalah kita menjadi orang yang “memahami”, karena dengan begitu kita bisa lebih mengerti dan lebih memahami hakekat keberadaan kita.

Dengan demikian kita tidak perlu lagi untuk protes. Tidak perlu lagi merasa bahwa semua ini tidak adil.

Apakah orang lain juga akan melakukan “memahami” seperti yang kita lakukan atau tidak, itu menjadi urusan masing-masing.

Kita tidak perlu memaksa agar mereka seperti kita, juga tidak perlu untuk menggurui.

Kita hanya perlu menjadi lebih baik, karena kebaikan itu pasti akan kembali kepada kita.


Thursday, August 23, 2007

friendship

Ada sesuatu yang menarik darimu. Saat pertama kali melihatmu, 9 tahun lalu. Entah apa itu, aku belum bisa menerjemahkannya.
Sekilas kamu seperti layaknya anak muda saat itu. Cukup populer, wajah lumayan, bergaul sewajarnya. Dan sebagai manusia biasa, sisi gelapmu pun ada. Sisi gelap yang aku ingin kamu bisa terbebas darinya.
Sekian waktu mengenalmu, aku mulai bisa mengerti apa yang membuatmu menarik bagiku.
Ada satu ruang dalam dirimu yang tak ingin kau bagi dengan siapapun. Ada satu sisi dalam dirimu yang tak ingin tersentuh siapapun. Ruang yang hanya ingin kau miliki sendiri.
Saat ini, seperti apa dirimu, aku benar-benar ingin tahu. Satu doa dariku,-seorang teman yang menginginkan kau bebas dari sisi gelapmu-, semoga kau telah menjadi manusia baru yang bisa membuatku bangga.
Jika kau membaca ini, dan masih ingat aku, kabari aku bagaimana keadaanmu saat ini.

Monday, August 13, 2007

H@PpY BirThDaY...... Brother.........

Kemarin, 12 agustus, bertambah satu tahun usia adikku. Kukirimkan ucapan lewat sms,
Assalamu'alaikum. H@PpY BirThDay Ndhut,......
Semoga kamu dan segala yang menyertaimu menjadi lebih baik. Amin...
Adikku, si Gendhut yang sudah tidak gendut lagi, telah tumbuh jadi laki-laki dewasa. Segala sesuatu dalam hidupnya, sepenuhnya menjadi hak pribadinya. Akan dibawa ke mana dan akan seperti apa, berhak ia tentukan sendiri. Tentunya ia telah siap dengan konsekuensi apapun atas keputusannya.
Makasih ya mbak. Mbak orang kedua yg ngucapin ultah buat aku.. Doain aku ya mbak...
Aku sayang sama mbak....

ALLAH, satu ungkapan sederhana yang begitu menyentuh hati. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, adikku mengungkapkan rasa sayangnya padaku melalui kata-kata. Setitik air mata mengalir. Ah, kenapa aku jadi sentimentil begini? Aku menyayangi adikku dan aku tahu ia juga demikian. Kami berdua tahu itu. Tapi jarang sekali kami ungkapkan dengan ucapan. Selama ini bagi kami, menyayangi tidak harus diungkapkan dengan kata-kata, dengan tindakan saja sudah lebih dari cukup.
Keluarga, baru terasa maknanya ketika saling berjauhan. Kita boleh saja mengatakan bahwa kita orang kuat, bahwa kita sanggup menghadapi wajah dunia ini seorang diri. Tapi jauh dalam hati kecil kita, tak bisa kita pungkiri bahwa kita menginginkan kehadiran dan dukungan orang-orang terdekat untuk menguatkan kita, untuk meyakinkan bahwa kita bisa.

Monday, August 6, 2007

Happy Birthday.....Dad.....

Alarm berbunyi tepat pukul 00.00 WIB hari ini. Tertulis satu kalimat di layar HP-ku. "Bapak Day 53". Hari ini ayahku tercinta genap berusia 53 tahun. Kukirim ucapan selamat ulang tahun untuk beliau lewat sms.
"Assalamu'alaikum. Bapak, SELAMAT ULANG TAHUN ke 53. Semoga ALLAH selalu melindungi dan mencintai Bapak. Semoga dimudahkan segala urusan, dilancarkan rizki, dan dilapangkan batin. Amin..."
Seumur hidup, baru kali ini aku mengucapkan selamat ulang tahun untuk beliau. Tak berapa lama ada sms masuk. Rupanya balasan dari Bapak.
"Makasih ya yang. Semoga doamu dikabulkan ALLAH. begitu juga kamu, semoga tercapai cita-citamu." Amin....
Rasa haru menyelinap dalam hati. Terbayang sosok gagah Bapak, keras tapi lembut, kaku tapi hangat.
HP berbunyi lagi. Bapak menelponku. Lalu Ibupun menyambung. Kami ngobrol bertiga. Aku ingin menangis, tapi itu tidak mungkin. Hanya akan membuat mereka sedih. Entah mengapa aku merindukan mereka berdua. Aku ingin ada di antara mereka. Sebuah keinginan wajar yang muncul dari naluri seorang anak.
Hari bahagia, akan semakin membahagiakan ketika orang-orang tercinta ada di samping kita. Aku tidak perlu khawatir bapak tidak akan bahagia. Keberadaan Ibu di samping bapak adalah kebahagiaan bapak. Cinta Ibu, kesetiaan Ibu, cukup menjadi kekuatan bagi bapak untuk menjalani hari-harinya.
Walaupun aku tidak bisa hadir di antara mereka, tapi paling tidak aku ingin mereka tahu bahwa aku sangat menyayangi mereka. Satu bentuk perhatian, sekecil apapun, aku rasa cukup untuk menunjukkan betapa kita menyayangi mereka, betapa mereka begitu berarti bagi kita.

Monday, June 25, 2007

dari pengalaman aku belajar....


Pengalaman, seperti apapun, menjadi guru terbaik bagi kita. Entah pengalaman itu merupakan pengalaman pribadi ataupun pengalaman orang lain. Adalah bijaksana jika kita mampu untuk melihat pengalaman tersebut dari berbagai perspektif. Tanpa ada unsur merendahkan ataupun memperkuat su'udhon.
Setiap orang pasti pernah melakukan kekhilafan. Dan setiap orang juga berhak untuk memperbaiki kesalahan tersebut.
Jika kita tulus memperbaiki diri, maka seperti apapun masa lalu, tak akan menjadi penghambat langkah kita selanjutnya.
Jika tulus ingin berubah, semoga dengan diiringi satu bentuk kesadaran bahwa kita hanyalah makhluk yang tak memiliki daya dan kekuatan apapun di hadapan ALLAH SWT.

he was gone

Suatu hari saat kakek meninggal dunia, air mata ini mengalir begitu saja. Saat itu aku masih duduk di bangku SMA kelas 2. ketika jam istirahat aku diberitahu seorang teman bahwa aku dicari orang TU, katanya ada telepon dari rumah yang mengabarkan bahwa kakek meninggal. Deg, seketika jantungku terasa berhenti berdetak. Segala macam perasaan bercampur aduk memenuhi ruang diriku. Entahlah, apa yang kurasakan saat itu aku sendiri tidak tahu. Sedihkah? Biasa sajakah?
Dengan diantar sohib-sohibku tercinta aku pulang ke rumah naik bis. Selama di perjalanan entah mengapa tiba-tiba dada ini terasa sesak, dan air mata mengalir begitu saja. Setiap kuhapus, air mata ini mengalir lagi. Hei, ada apa ini? Selama ini aku tidak begitu dekat dengan kakek. Aku tidak pernah bermanja-manja padanya. Saat itu, bagiku kakek adalah seorang yang galak, pemarah. Tapi aku tetap menghormati Beliau. Aku berusaha ada jika kakek membutuhkanku. Mengantarkan kakek ke kamar mandi, membuatkan kopi, mengambilkan piring untuk makan, menyalakan kipas angin, mengambilkan sandal, mencucikan baju,dll. Semuanya itu kulakukan dengan senang hati, walaupun adakalanya aku melakukannya dengan menggerutu.
Aku jadi teringat waktu aku masih SD. Saat itu kakek masih bugar kondisi fisiknya. Beliau sering mandi di sungai walaupun di rumah ada kamar mandi. Air sungai di desaku saat itu masih jernih dan melimpah. Aku dan adik-adikku serta sepupuku juga sering mandi di sungai. Biasanya kami berangkat bersama-sama dan sampai di sungai kami bermain sepuasnya. Ada satu peristiwa yang sampai sekarang masih tersimpan di memori otak ini. Kakek mengajak kami mandi di sungai. Satu-persatu dari kami bergiliran duduk di pangkuan kakek, lalu kakek menggosok punggung kami dengan batu kecil. Sambil menggosok beliau memberikan petuah2nya. Saat itu kami hanya tertawa-tawa kegelian sambil sesekali meringis kesakitan. Satu momen kecil yang kalau kuingat saat ini baru kusadari kalau kakek sangat menyayangi kami, cucu-cucunya.
Selama di perjalanan menuju rumah, begitu banyak pertanyaan-pertanyaan yang bersliweran dalam pikiranku. Bagaimana kakek meninggal? Dalam keadaan apa kakek meninggal? Apakah ALLAH akan menerima kakek? Aku hanya berharap ALLAH akan mengampuni dosa-dosa beliau. Semoga.
Malam harinya, entah mengapa aku ingin tidur di kamar kakek. Tak kupedulikan keadaan sekelilingku. Orang-orang yang berkumpul, tahlilan yang sedang berlangsung, aku tak peduli. Malam itu, di kamar kakek, aku tidur dengan lelap sampai pagi.
Aku hanya berharap, kakek meninggal dalam keadaan khusnul khotimah. ALLAH, ampuni dosa-dosa beliau dan lapangkanlah tempat peristirahatan sementara beliau. Amin....

Wednesday, May 23, 2007

Enjoy Your Life

Memang sudah jadi takdir kalau hidup itu tidak semulus yang kita kira. Ada saja hal-hal yang tidak kita kehendaki terjadi, justru menjadi episode dari jatah drama yang harus kita mainkan. Ya, apa mau dikata, harus dijalani tho. Pokoknya harus ikhlas plus sabar. Laa yukallifullahu nafsan illa wus’aha.
Itu yang selama ini selalu saya jadikan pegangan untuk menikmati peran saya dalam kompleksitas drama hidup yang sutradaranya tidak perlu diragukan lagi kualitasnya alias superqualified.
Kalau dipikir-pikir, benar juga kalau hidup itu harus ada dinamikanya. Biar tidak monoton. Kalau mulus-mulus saja, terlalu normatif, gak ada greget alias gak ada gairah dalam menjalani hidup. Jadinya selalu ada tantangan yang tiba-tiba nongol di depan kita yang membuat kita bernafsu untuk menaklukannya (karena mau gak mau ya harus mau).
Tantangan yang tiba-tiba nongol dan mau gak mau kita harus mau ini warna dan bentuknya bisa macam-macam. Bisa berupa hal yang menyenangkan, bisa juga berupa hal yang tidak menyenangkan. Kalau hal menyenangkan yang kita dapatkan, dengan lilo legowo dan tangan terbuka lebar-lebar, kita siap untuk menerimanya (sambil mbatin, mbok ya setiap hari seperti ini). Tapi kalau hal tidak menyenangkan yang kita dapatkan, Wallahu’alam. Masing-masing orang tentu akan berbeda menyikapinya. Yang jelas, menyenangkan atau tidak menyenangkan, itu relatif.